ESDM Optimis Target DMO Batu Bara Tercapai

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan realisasi penyerapan batu bara dalam negeri (domestic market obligation/ DMO) hingga akhir Oktober kemarin telah mencapai 90 juta ton. Realisasi itu sekitar 78,9% dari target DMO yang ditetapkan tahun ini sebesar 114 juta ton.

Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM Bambang Gatot optimis target DMO bakal tercapai tahun ini. Pemegang Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) dan Izin Usaha Pertambangan (IUP) diwajibkan menyisihkan 25% produksinya untuk alokasi DMO.

Bahkan, dalam Keputusan Menteri ESDM No 23 K/30/MEM/2018 ditegaskan mengenai alokasi bagi pembangkit listrik. Dalam beleid ini pun diterapkan sanksi penyesuaian tingkat produksi 2019 bagi perusahaan yang tidak bisa memenuhi ketentuan DMO di 2018.

Besaran produksi batu bara yang disetujui maksimal empat kali lipat dari total realisasi volume DMO sepanjang tahun ini. Bambang menuturkan, hasil evaluasi DMO sudah selesai dan semua pelaku usaha sudah memenuhi ketentuan. Artinya, tidak ada satu pun perusahaan tambang yang terkena sanksi tersebut. “Enggak ada yang dapat sanksi,” ujarnya.

Kewajiban DMO untuk mayoritas bagi pembangkit listrik ini membuat polemik. Pasalnya, tidak semua produksi batu bara diserap oleh PLN. Jenis batu bara yang diserap oleh pembangkit listrik dengan kalori 4.000-4.500 kcal per kg. Sedangkan pelaku usaha memproduksi batu bara beragam termasuk kalori rendah alias dibawah 4.000 kcal per kg dan kalori tinggi diatas 4.500 kcal per kg. Hal ini yang membuat tidak semua pelaku usaha berkontrak dengan pembangkit listrik.

Namun selama ini produsen kalori rendah dan kalori tinggi sudah mengalokasinya volume produkasi ke dalam negeri untuk industri. Hanya saja dengan kewajiban DMO teranyar maka mau tidak mau harus memasok ke pembangkit listrik. Kementerian ESDM kemudian memberikan solusi melalui skema transfer kuota. Skema ini diserahkan kepada pelaku usaha.

baca juga : https://v-genset.com/ready-stock-genset/harga-genset-perkins/

Artinya, kesepakatan harga transfer merujuk pada business to business. Kementerian ESDM hanya menerima laporan dari kedua belah pihak yang menyepakati transfer kuota tersebut. Meski menjadi solusi, transfer kuota memberatkan produsen kalori rendah. Pasalnya harga batu bara tergantung jenis kalori.

Semakin tinggi kalori maka harga semakin melambung. Bagi produsen kalori rendah harga kuota yang mereka beli tentunya lebih tinggi dari pada harga jual batu bara kalori rendah. Berbeda dengan produsen kalori tinggi, harga kuota tentunya lebih rendah dari pada harga kalori tinggi.

Sementara itu Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batu bara Indonesia (APBI) Hendra Sinadia menuturkan pelaku usaha berkomitmen memenuhi kewajiban DMO. “Transfer kuota sudah berjalan dan ada kekuatiran terbatasnya kuota,” ujarnya.

Leave a Reply