Testosterone Mempengaruhi Massa Otot dan Oksidasi Lemak

jibrayel.com – Testosterone merupakan hormon seks yang diproduksi dalam testis dan ovarium. Testosterone mempengaruhi massa otot, oksidasi lemak, densitas tulang, organ seksual, kulit, rambut, dan sistem saraf. Testosterone mempunyai efek androgenik dan merupakan hormon anabolik yang mendukung pertumbuhan otot yang penting untuk pertumbuhan normal selama masa kanakkanak dan awal masa dewasa, khususnya pada laki-laki cara merawat wajah pria agar tidak kusam dan berminyak.

Kadar Testosterone menurun secara alami sesuai bertambahnya usia. Penurunan ini dapat mempengaruhi mood, tingkat energi, dan menyebabkan atrofi otot. Massa lemak meningkat pada pria hipogonadal dan perubahan tersebut dapat dilawan dengan terapi pengganti Testosterone. Pemberian Testosterone Mempengaruhi Massa Otot dan Oksidasi Lemak.

Suatu studi dilakukan untuk meneliti efek terapi Testosterone pada sensitivitas insulin, metabolisme substrat, komposisi tubuh dan lemak pada pria usia lanjut dengan kadar Testosterone rendah hingga normal. Studi acak, tersamar ganda, dengan kontrol plasebo tersebut dilakukan pada 38 pria berusia 6078 tahun dengan Testosterone bioavailable <7,3 nmol/L dan lingkar pinggang > 94 cm yang mendapat Testosterone gel. Pengeluaran glukosa yang distimulasi insulin dan oksidasi subtrat dinilai dengan klem hiperinsulinemik euglikemik yang dikombinasi dengan kalorimetri tidak langsung.

Hasilnya menunjukkan bahwa lean body mass meningkat (1,9 kg, p=0,003) sementara kolesterol HDL -0,12 mmol/L, p=0,043, dan massa lemak total menurun (-1,2 kg, p=0,038) pada kelompok Testosterone dibandingkan dengan kelompok plasebo. Oksidasi lemak meningkat (5,65 mg/menit/m2, p=0,045) dan oksidasi glukosa menurun (-9,71 mg/menit/m2, p=0,046) dalam respons terhadap terapi Testosterone. Namun tidak ada perubahan dalam pengeluaran glukosa yang distimulasi insulin (p=0,92). Pemberian Berlebihan menyebabkan testosterone mempengaruhi massa otot dan oksidasi lemak

Terapi Testosterone meningkatkan massa otot dan oksidasi lemak pada pria usia lanjut dengan kadar Testosterone bioavailable rendah hingga normal, namun data tidak mendukung efek Testosterone pada sensitivitas insulin tubuh secara keseluruhan dinilai menggunakan teknik klem hiperinsulinemik euglikemik.

Sebelumnya, suatu studi label terbuka juga telah dilakukan untuk menentukan apakah stimulasi oksidasi lemak oleh testosterone mempengaruhi massa otot dan oksidasi lemak. Studi tersebut meneliti 13 pria hipopituitarisme berusia rata-rata 53,1 tahun dengan defi siensi growth hormone dan Testosterone setelah 2 minggu terapi dengan Testosterone transdermal (5 mg), tanpa terapi, atau crystalline Testosteronee oral dengan dosis yang ditingkatkan secara bertahap (10, 20, 40, dan 80 mg) tanpa terapi growth hormone.

Dalam studi tersebut diukur kadar Testosterone, insulin-like growth factor 1 (IGF-1), efek metabolik (resting energy expenditure (REE) dan oksidasi lemak), sex hormone-binding globulin (SHBG), dan thyroid binding globulin (TBG) sebagai petanda pajanan androgen hepatik yang berlebihan, pada akhir setiap periode terapi.

Hasilnya menunjukkan bahwa dibandingkan dengan fase tanpa terapi, kadar Testosterone plasma meningkat ke kadar fisiologis setelah pemberian Testosterone transdermal tetapi tidak terjadi perubahan yang bermakna setelah terapi Testosterone oral 10, 20, 40, atau 80 mg.

Oksidasi lemak meningkat secara bermakna pada pemberian Testosterone transdermal tetapi tidak terjadi pada pemberian Testosterone oral. Sedangkan IGF-1 plasma rata-rata dan REE tidak terpengaruh oleh Testosterone dengan kedua rute pemberian.

Dari hasil studi tersebut disimpulkan bahwa pemberian Testosterone jangka pendek tidak menstimulasi oksidasi lemak hati, tetapi meningkatkan oksidasi lemak tubuh secara keseluruhan dengan bekerja pada jaringan ekstrahepatik dan cara merawat wajah.

Leave a Reply